Kamu yang Merubahku Suara ketukkan pintu dari rumah berwarna kuning gading masih terdengar. Seketika tak ada jawaban dari dalam. Hanya ada suara binatang malam yang sedang berpesta riang. Memandang dewi malam yang tersenyum diam. Aku masih berdiri mematung dan berusaha meyakinkan bahwa orang dalam rumah masih mendengar ketukkan pintu yang kubuat. Sepuluh menit berlalu. Masih diam. Tak ada kepastian. Rasanya ingin ku dobrak rumah itu. Samar-samar terdengar suara pertengkaran. Sini bicara, lalu dibalas dan seterusnya. Aku sudah sangat paham tentang suara pertengkaran itu. Ya, pertengkaran kedua orang tuaku. Ku ketuk pintu lebih keras. Aku sudah tak sanggup berada diluar di malam yang dingin serta angin. Sekitar tiga menit berlalu, seorang wanita dengan tampang wajah keibuan membukakan pintu utama untukku. Matanya masih terlihat merah sembab karena habis menangis menanggapi ucapan lawan bicaranya tadi. “Kamu udah pulang Sat?”, ucapnya lirih mencoba menyembunyikan semua ke...