Langsung ke konten utama

Cerita Luka

Puisi ini tercipta atas dasar cerita dari teman seperjuangan yang tersayang



Cerita Luka
Kala fajar mulai menyingsing
Aku masih diam tak bergeming
Ku sibak tirai fantasi
Mencoba bangun dari mimpi
Aku baru sadar bahwa engkau telah pergi
Meninggalkan diriku dalam sunyi
Beberapa potongan kenangan telah kembali
Mengingatkanku pada dirimu
Tentang beberapa saat yang lalu
Saat ku baru saja kenal denganmu
Kau menyapaku dengan senyum hangatmu
Hanya ku balas dengan senyum pipi merah jambu
Saat kau mencoba mendekat
Aku hanya tersenyum pekat
1 minggu…
2 minggu…
3 minggu…
Aku masih menunggu
Mencoba bersabar menanti kamu
Masih bermain dengan anganku
Bersamamu sampai akhir waktu
Tapi…
Mengapa kau kini pergi
Meninggalkan ku sendiri
Dalam anganku yang takkan terjadi
Kau pergi bersamanya
Lalu apa makna semua?
Rasa itu..
Harapan itu…
Perhatian itu…
Telah sirna
Terkubur bersama sejuta kenangan yang ada
Tiba-tiba kau kembali lagi
Meski luka ini masih terasa di hati
Aku mencoba memaafkan
Segala kekhilafan
Yang telah engkau torehkan
Perlahan…
Luka itu mulai hilang
Digantikan sejuta perhatian
Digantika sejuta harapan padamu
Rasa itu kembali membelenggu
Aku mulai kelu
Mencoba berkilah
Tapi ku hanya bisa pasrah
Karena rasa itu adalah anugerah
Aku kembali berharap
Akan cinta supaya datang mendekap
Mendekapku dalam pengap
Berharap aku tak kembali meratap
Tentang cinta yang mendekat
Sampai akhirnya
Kejadian itu terpampang didepan mata
Bukan hanya kabar burung belaka
Kau kembali mendapat yang baru
Saat masih bersamaku
Aku hanya bisa tersenyum bisu
Lalu apa arti semua yang kau beri padaku?
Pantas saja
Saat aku dalam keadaan tak berdaya
Tak ada sedikitpun ucapan penyemangat darimu
Tak ada sedikitpun perhatian darimu
Bahkan,
Tak ada kabar darimu
Lantas…
Apa semua itu hanya janji palsu?
Bersamaku sampai akhir waktu
Menjagaku sampai aku meninggalkan duniamu
Sendu,
Ya hanya kata itu
Yang bisa menggambarkan semua harapku
Pilu..
Yang menggambarkan keadaan hatiku
Galau..
Itu semboyanku saat itu
Itu dulu..,
Tapi saat ini…
Aku mulai tahu
Bahwa mencintai tak harus memiliki
Bahwa hukum karma pun berlaku
Bahwa mencintai tak pasti dari hati
Pegang ucapanku:
Aku mencintaimu dari hati
Aku mencintaimu dengan suci
Aku mencintaimu dengan murni
Dan aku masih mengharapkanmu sampai saat ini

Purbalingga, 27 Agustus 2014

Salam Hilang,
Nismasari Ulfi Mulyanti

Komentar

Posting Komentar