Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2014

Kamu yang Merubahku

Kamu yang Merubahku Suara ketukkan pintu dari rumah berwarna kuning gading masih terdengar. Seketika tak ada jawaban dari dalam. Hanya ada suara binatang malam yang sedang berpesta riang. Memandang dewi malam yang tersenyum diam. Aku masih berdiri mematung dan berusaha meyakinkan bahwa orang dalam rumah masih mendengar ketukkan pintu yang kubuat. Sepuluh menit berlalu. Masih diam. Tak ada kepastian. Rasanya ingin ku dobrak rumah itu. Samar-samar terdengar suara pertengkaran. Sini bicara, lalu dibalas dan seterusnya. Aku sudah sangat paham tentang suara pertengkaran itu. Ya, pertengkaran kedua orang tuaku. Ku ketuk pintu lebih keras. Aku sudah tak sanggup berada diluar di malam yang dingin serta angin. Sekitar tiga menit berlalu, seorang wanita dengan tampang wajah keibuan membukakan pintu utama untukku. Matanya masih terlihat merah sembab karena habis menangis menanggapi ucapan lawan bicaranya tadi. “Kamu udah pulang Sat?”, ucapnya lirih mencoba menyembunyikan semua ke...

Ini Pungguk Merindukan Rembulan

Andai pungguk memiliki sayap yang kuat Dia pasti akan terbang hebat Menemui sang rembulan di malam pekat Tapi pungguk tak berharap banyak Karena ia tau akan kalah telak Tapi semangat bertemu rembulan tetap bergolak Dinginnya malam Tak menyurutkan semangat Ia tetap berjuang dalam kelam Mencoba lebih menguatkan niat Agar mendapat hati sang pujaan Dan bersanding bersama dalam kenyataan Pungguk memang tak setara dengan rembulan Akankah selalu seperti ini? Pungguk hanya dapat menatap rembulan Dari arah kejauhan

Maafin Aku... Aku Pergi!!!

Maafin Aku… Aku Pergi..!!! Aku masih mentap tajam orang yang ada dihadapanku. Benar-benar tajam. Tak kubiarkan apapun membuat mataku berkedip. Ku sentuh wajahnya perlahan. Wajah kami sama. Benar-benar sama. Tak ada yang berbeda. Ku tatap lagi dia lamat-lamat. Ku sentuh lagi secara lembut. Rambutnya kini mulai rontok perlahan. Tapi senyum masih tertambat manis di bibirnya, meski disertai buliran air mata. Terdengar suara memanggil namaku dari arah luar kamar. Ku palingkan sejenak tatapanku dari orang didepanku. Terlihat seorang wanita berwajah keibuan datang mendekatiku. “Kamu kenapa Phi? Kok bercermin gitu? Hari ini kita ada jadwal cek dokter loh. Ngga lupa kan?”, ucapnya lembut. Ya dia mamahku. Seorang wanita yang sangat menyayangiku dengan keadaanku saat ini. Dengan keadaanku yang hampir sudah tak diharapkan orang disekelilingku. Aku mengangguk lembut mengiyakan. *** Mentari sudah bertengger anggun dilangit ditemani awan putih bersih. Suara keramaian di sebuah seko...