Langsung ke konten utama

Maafin Aku... Aku Pergi!!!



Maafin Aku… Aku Pergi..!!!
Aku masih mentap tajam orang yang ada dihadapanku. Benar-benar tajam. Tak kubiarkan apapun membuat mataku berkedip. Ku sentuh wajahnya perlahan. Wajah kami sama. Benar-benar sama. Tak ada yang berbeda. Ku tatap lagi dia lamat-lamat. Ku sentuh lagi secara lembut. Rambutnya kini mulai rontok perlahan. Tapi senyum masih tertambat manis di bibirnya, meski disertai buliran air mata.
Terdengar suara memanggil namaku dari arah luar kamar. Ku palingkan sejenak tatapanku dari orang didepanku. Terlihat seorang wanita berwajah keibuan datang mendekatiku.
“Kamu kenapa Phi? Kok bercermin gitu? Hari ini kita ada jadwal cek dokter loh. Ngga lupa kan?”, ucapnya lembut.
Ya dia mamahku. Seorang wanita yang sangat menyayangiku dengan keadaanku saat ini. Dengan keadaanku yang hampir sudah tak diharapkan orang disekelilingku.
Aku mengangguk lembut mengiyakan.
***
Mentari sudah bertengger anggun dilangit ditemani awan putih bersih. Suara keramaian di sebuah sekolah sudah sangat riuh.
Terlihat dua orang anak sedang duduk saling diam disebuah kelas. Ya itu aku dan temanku.
Ku tatap lagi wajahnya lamat mencoba meyakinkan apa yang sedang terjadi.
“Sungguh. Hanya itu yang kami bicarakan. Apa iya kamu ngga percaya sama aku?”, tanyaku memelas, sudah tak tahu harus bicara apalagi.
Dia masih diam. Tak bergeming. Tak ada respon sedikitpun, bahkan sebuah isyarat. Ya dia adalah temanku. Teman yang bisa dikatakan lebih dari teman. Kami sudah dekat sekitar 1 bulan lebih. Aku tahu dia, dia tahu aku. Namanya Rafa.
“Bukannya aku ngga percaya. Tapi…..”, ucapnya menggantung.
Aku diam tak menjawab. Aku sudah cukup lelah berdebat dengannya. Aku pun bingung hendak berucap apa lagi. Kami sama-sama diam. Tak ada yang mencoba berucap lagi.
Kenapa aku yang selalu salah? Apa kamu ngga sadar? Ini semua sebenernya salah kamu? Aku selalu mengalah untuk minta maaf terlebih dahulu. Tapi kenapa sikap kamu ngga berubah?, batinku.
“Ya udah lah Raf. Aku udah cape kita berdebat. Kamu maunya gimana sekarang?”, tanyaku dengan sisa suara yang masih ada.
Sesaat masih hening. Tak ada isyarat jawaban sedikitpun dari arahnya. Satu menit. Dua menit. Tiga menit. Dia pergi meninggalkanku sendirian. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan saat ini.
***
“Kamu kenapa Phi? Kok mukanya pucet gitu sih?”, tanya Kiran lembut. Ia temanku.
Aku menggeleng lembut. Ia duduk mencoba mendekatiku.
“Aku ngga apa kok”, akhirnya kalimat itu meluncur lembut tanpa tenaga dari bibirku.
“Kamu ada masalah sama Rafa?”
Aku mencoba menggeleng pelan. Tapi nyatanya isyarat gelengan kepalaku tak berpengaruh. Ia bisa membaca sorot mataku.
“Kita udah kenal lama Phi, ngga usah kamu bohongin aku dengan isyarat klasik kaya gitu. Ngga lucu”, ucapnya.
Aku kembali terdiam. Ku coba yakinkan diriku. Apakah aku sudah mampu untuk membicarakan hal ini kepada orang lain. 1 menit. 2 menit. 3 menit. Akhirnya keyakinanku bulat. Aku ceritakan kejadian apa yang baru saja terjadi padaku.
Tentang prediksi seseorang akan hubunganku dengan Rafa. Tentang tujuan Rafa yang mendekatiku. Dan tentang kelanjutan hubungan kami ke depannya.
“….menurutmu gimana?”, ucapku mengakhiri cerita.
“Kalau aku boleh jujur, menurutku Rafa juga ngga sayang kamu. Dan menurutku tujuan Rafa ngedeketin kamu, ya sama seperti yang orang lain bilang Phi. Mungkin bisa dibilang Rafa cuma manfaatin kamu. Menurutku ini seperti cinta sepihak antara kamu sama Rafa, meski kalian udah diikat oleh suatu komitmen meski bukan dalam hubungan pacaran”, ucapnya tulus dari hati.
Hatiku berdesir lembut mendengar ucapan Kiran, sahabat terbaik yang kumiliki. Apa benar Rafa seperti itu sama aku? Hatiku tetap berontak. Rafa ngga mungkin seperti itu sama aku. Dia baik sama aku. Dia sayang sama aku.
“Ya itu sih menurut pandanganku sih Phi. Maaf kalo menyakitkan”, ucapnya lirih akibat melihat reaksi mukaku.
Aku mengangguk. Mencoba tersenyum. Seketika kepalaku terasa berat. Pandangan sekelilingku buram. Aku sudah tidak bisa mengingat apa yang terjadi saat itu. Aku pingsan tak sadar.
***
1 minggu sudah aku tidak berangkat sekolah akibat kejadian pingsan kemarin saat membicarakan perihal Rafa kepada Kiran. Aku mencoba menghubungi Rafa, namun hasilnya nihil. Dia tidak memberi respon sedikitpun. Bahkan menanyakan kabar, mengapa aku tidak berangkat selama 1 minggu.
Aku mencoba ber-positive thinking terhadapnya. Mungkin saja Ia sibuk dengan kegiatan ekstrakurikulernya. Atau mungkin sibuk dengan bandnya yang akan tampil di tingkat karisidenan esok. Namun nyatanya pikiranku tersebut tak berbuah nyata.
Tubuhku terlanjur lemas tak berdaya. Badanku sekarang lebih kurus disbanding 1 minggu yang lalu. Berbagai selang plastik menempel di tubuhku. Aku sudah tak sanggup melakukan apapun, bahkan shalatpun harus menggunakan isyarat. Di sisiku telah ada Mamah, Papah, Kedua adikku, Kiran yang menggunakan baju, seperti seragam khusus untuk ruang isolasi. Aku tak tahu apa nama baju itu. Sedang kerabat dekatku berada diluar mengintipku seperti mengintip artis yang terlalu sibuk dengan konsernya.
Ku tatap mata mereka satu persatu dengan tajam. Tatapan pertama ku tujukan kepada Mamahku.
“Mah.. terimakasih atas semuanya. Atas kasih sayang yang mamah curahkan buat aku dan adik-adikku. Mamah adalah wanita terhebat yang pernah aku temui di dunia ini. Aku belajar ketegaran dalam sebuah tangisan dari Mamah. Aku belajar tersenyum dalam sebuah penderitaan dari Mamah. Aku belajar sebuah ketulusan dalam sebuah kekurangan dari mamah. Ya dari mamah, terimakasih Mah atas segalanya. Maaf jika selama ini aku selalu membangkang mamah sama papah. Aku tau mamah sama papah sayang banget sama aku, tapi aku tetep aja nakal. Makasih mah, sudah bisa menerima aku yang memiliki banyak kekurangan”, ucapku lirih.
Selanjutnya kupandangi papah dan kedua adikku. Ku ucapkan terimakasih kepadanya serta permintaan maaf yang sebesar-besarnya.
Terakhir kupandangi secara lekat dan lebih tajam ke arah Kiran. Ku coba rengkuh tangannya dalam keadaan tubuh lunglai. Ku tarik nafas dalam secara perlahan.
“Kiran.. kamu dapet kabar dari Rafa? Apa dia masih marah sama aku?”, tanyaku lirih. Tak kupedulikan Mamah, Papah serta kedua adikku mendengar pertanyaan itu.
“Aku.. aku belum dapet kabar apapun dari dia. Kemarin sih aku liat dia”, ucapnya lirih dengan penuh rasa bersalah.
“Ya udahlah. Mungkin aku emang salah banget ya Ran. Bilang ke dia aku minta maaf tulus dari hatiku. Bilang ke dia, aku sayang dia dari dalam hati. Meski mungkin dia ngga sayang aku”, ucapku lebih lirih dan terpotong-potong.
Ia mengangguk lembut. Air matanya mulai mengalir deras membasahi pipinya.
“Makasih Kiran, kamu mau menjadi sahabatku yang baik. Kamu ngga salah kok. Maaf beberapa hari kemarin aku bikin kamu kaget dengan aku pingsan tanpa sebelumnya memberitahu aku kena penyakit apa. Tapi aku pikir waktu memang narasumber yang tepat dan bijaksana. Waktu telah menjawab ini.” Ucapku lebih lirih dari sebelumnya.
“Aku yang harusnya berterimakasih sama kamu. Maaf aku ngga bisa selalu ada buat kamu Phi. Aku sayang kamu”, ucapnya ingin memeluk tubuhku yang terbalut belalai plastic panjang.
“Aku juga sayang kamu. Kalau boleh aku mau titip ini buat Rafa. Bilang ke dia, aku bahagia banget kenal orang kaya dia”, ucapku seraya menyerahkan sebuah amplop berwarna pink dominasi kuning.
“Mah.. Pah.. Kiran,, dan semuanya. Kayaknya tugasku udah selesai. Allah lebih sayang sama aku, dan mungkin ini waktunya kita berpisah. Maaf jika selama ini Phi punya banyak salah”, ucapku seraya mengucapkan kalimat syahadat secara patah-patah. Aku pergi.
***
Hari ini Kiran menyempatkan untuk berangkat sekolah. Luka dibatinnya akibat kehilangan Phi, sahabat terbaiknya masih terasa. Ia membawa sebuah misi besar. Dicarinya Rafa, orang yang harusnya menerima amanat ini.
“Rafa….”, ucapnya sedikit berteriak.
Rafa melihat ke arahnya sejenak. Lalu ia jalan kembali tnapa memperdulikan Kiran yang tergopoh-gopoh menyamai langkahnya.
“Raf.. ini ada titipan surat dari Phi”, ucap Kiran lirih disertai buliran air mata.
Ia terima surat beramplop warna pink dan kuning. Ia ambil selembar kertas dari dalamnya. Terlihat tulisan dengan gaya tekstur kecil tapi rapi tertuang oleh pena di atas kertas berwarna salem.
Hai Rafa,
Assalamu’alaikum, apa kabar? Semoga kamu disana baik-baik saja ya,
Maaf atas semua salahku sama kamu. Aku tau aku salah besar, tapi aku mohon maaf setulusnya. Aku sayang kamu. Aku harap kamu juga sayang aku, tapi kayaknya itu ngga mungkin. Semoga kamu bahagia tanpa aku disana ya? Selamat tinggal
Sekali lagi, maafin aku.. aku pergi!!! Terimakasih atas semua waktu dan rasa yang kau beri padaku
Bye
                                                                                                   Salam sayang,
                                                                                                   Phi
Ia lipat kertas itu lembut.
“Emang Phi pergi kemana?”, tanyanya.
“Phi sakit leukemia stadium 3. Seminggu kemarin dia intensif dirawat dirumah sakit. Kemarin dia nitipin surat ini dan nanya kabar tentang kamu. Dia bilang dia sayang kamu. Dia minta maaf sama kamu”, ucap Kiran lirih dengan air mata menetes.
Seketika air muka Rafa berubah 180 derajat.
“Kamu yang bener Ran, kaya gini ngga lucu buat becanda”, ucapnya.
Kiran hanya mengangguk lemah. Air mata kembali menganak sungai dipipinya.
***
Harum wangi bunga masih tercium disekitar. Aroma tanah khas baru disiram air pun menusuk tajam ke dalam hidung.
“Phi.. maafin aku yang selama ini ngga percaya sama kamu. Aku emang salah menyia-nyiakan orang sebaik kamu. Semoga kamu memaafkan aku. Semoga kamu tenang dialam sana”, ucap Rafa lirih sambil mengusap-usap gundukan tanah di depannya.
Aku baru sadar. Tak seharusnya kita menyia-nyiakan orang yang kita sayang. Hargailah pengorbanan yang telah mereka beri. Meski pengorbanan itu kecil, tapi Ia telah mau mengorbankan itu untuk orang yang kita sayang. Jangan pernah memanfaatkan seseorang demi sesuatu. Cinta terpaksa tak akan bahagia. Cinta memang suatu perasaan yang datang tiba-tiba. Tapi cinta juga perlu proses untuk datang dan pergi. Aku sayang kamu Phi. Maafkan aku.. Kini kamu harus pergi..

Komentar

Posting Komentar