Akik Laris, Limbasari Menangis
2015.
Batu akik mulai menjadi trending topik. Entah dari kalangan pejabat hingga
kalangan mlarat. Entah dari timur hingga ke barat.
Ya,
batu akik kembali populer pada akhir tahun 2014. Bahkan sampai saat ini
peminatnya bertambah. Ngga cuma dari kalangan tua bahkan hingga muda pun
merajalela.
Usut punya usut, ternyata Purbalingga
memiliki batu akik yang kualitasnya sangat baik loh guys. Kalau untuk diamond
memiliki kekerasan sekitar 10 skala Mohs,, sedangkan batu akik Purbalingga yang
sering disebut Akik Klawing memiliki kekerasan 6-6,7 skala Mohs. Hebat kan?
Batu Akik Klawing yang disebut juga Batu
Darah Kristus memiliki 70 variasi yang ditemukan di India dan tidak ditemukan
di daerah lain Indonesia kecuali Pubalingga. Batu Darah Kristus memiliki ikatan
emosional dengan umat Kristiani karena bercak merah pada batu jasper berwarna
dasar hijau itu diyakini tetesan darah Yesus Kristus saat disalib. Karenanya
bagi kalangan bangsawan Prancis, batu itu digunakan sebagai cap kebangsawanan.
Best banget gak tuh Purbalingga? Woow banget kan? Bangga ga? Bangga dong.
Batu Akik Klawing ini bisa ditemukan di
sepanjang DAS Klawing yang merupakan sungai terbesar di Purbalingga. Ternyata
pusat dari segala pusat Akik Klawing ini terdapat di Desa Limbasari loh guys.
Nah kalo kalian tahu ya, Desa Limbasari
ini punya beberapa bukit yang didalamnya terkandung jenis batu mulia bernilai
seni tinggi loh. Tapi apa kalian tahu? Dibalik ketenaran Akik Klawing ini ada
sejuta mara bahaya yang mengancam penduduk Limbasari guys. Pasalnya, seiring
dengan trend akik klawing, semakin banyak juga eksploitasi bukit yang
mengandung batu mulia ini. Apalagi karena yang mengeksploitasi kebanyakan bukan
orang asli daerah situ guys. Mungkin yang dipikiran mereka gini kali ya bodo amat, ini kan daerah mereka bukan
daerah gue. Paling kalo ada bencana kan mereka yang kena, bukan gue. Itu ga
baik loh guys, pokoknya sayangi alam dimanapun berada
“Seiring dengan trendnya akik klawing,
kami sih bangga terhadap Limbasari. Apalagi setelah dianjurkannya pemakaian
batu akik klawing oleh Bupati Purbalingga. Cuma ya tetap ada rasa waspada dan
khawatir. Karena jika eksploitasi semakin besar, akan ada dampak negatif bagi
lingkungan. Entah itu tanah longsor atau yang lainnya. Jadi seperti buah
simalakama lah. Dari pemda juga belum ada peraturan tentang eksploitasi”, ucap
Ibu Halimah, Kepala Desa Limbasari.
Itu penuturan Kepala Desa Limbasari yang
kami temui tadi siang. Setelah melakukan wawancara sedikit dengan ibu Kades,
langsung tancap gas deh ke sentra pembuatan akik klawing yang ada di Limbasari.
“Ya gimana ya, sebenarnya yang
mengeksploitasi itu kebanyakan bukan orang asli. Bukit yang dieksploitasi belum
cukup besar, tapi kami harap itu sudah cukup. Kalau menemukan di sungai sih ngga
apa”, tutur salah satu pengrajin.
Uuw.. ternyata dibalik trendingnya batu
akik terdapat beberapa cerita miris ya guys. Ketakutan para warga Limbasari
akan bencana yang bisa datang tiba-tiba. Tangisan warganya yang takut-takut
akan kehancuran alam yang terjaga, namun karena ulah nakal menjadi ugal.
So, buat kalian pecinta akik, boleh sih
mengambil dan mengkoleksi batu akik. Tapi tetap ingat alam, dan menjaganya.
Karena kalau kita merawat alam, maka alam akan merawat kita. Begitu pula
sebaliknya. Kan hukum timbal balik guys.
And then, buat bapak ibu pejabat daerah,
tolong buatkan peraturan bagi para tangan nakal yang merusak alam hanya untuk
mengambil sebuah keuntungan tanpa pertimbangan keselamatan alam. Jangan lupa
jaga lingkungan juga ya Pak, Bu. Jangan karena jabatan, jadi lupa rawat
lingkungan
Komentar
Posting Komentar