Untukmu Sahabat
Aku masih berdiri
diantara bangku-bangku kosong yang mulai tak teratur rapi menatap keluar
mencari sesosok bayangan orang yang amat ku kenali. Ku coba mereka dan menatap
secara diam. Semakin tajam semakin dalam. Tak terasa bulir air mata luka mulai
menyentuh pipi. Suara sesenggukkan mulai terdengar.
Dua anak hawa seumuran
terlihat sedang bercanda tawa dari arah luar. Hatiku merutuk. Begitu merutuk
dan merajuk. Ingin rasanya seisi ruangan ku buang. Ingin rasanya seisi ruangan
ku pecah. Ingin aku bicara kepada dua anak hawa itu untuk jangan bicara atau
menampilkan kebersamaan di depanku
***
Tawa
masih terdengar diantara kami dan hujan. Air yang mengalir begitu deras seperti
membawa lepas semua penat, lelah dan rasa kecewa yang menggelayuti. Cipratan air mulai
mengenai wajah kami. Seperti biasa kami kembali lagi layaknya anak kecil yang
ingin terus bermain bersama hujan.
Riuh
rendah suaranya masih terdengar diantara rintihan sakit hujan yang mengenai
atap sekolah.
“Nis..
ujan-ujanannya udahan ya. Nanti kamu sakit loh..”, ucapnya terdengar samar.
Aku
mencoba lebih mendekatkan posisiku dengannya.
“Ciaah,,
sekarang kamu udah takut sakit Al?”, tanyaku padanya.
Ya
dia. Alfianita. Teman seperjuanganku.
“Enggak
lah ya. Kita kan cewe strong”, ucapnya padaku.
“Haha,,.
Cewe strong tapi kalo kita disakiti nanti nangis ya?”, ucapku sambil kembali
mencipratkan air hujan ke wajahnya.
“Lah
itu tau…”, ucapnya lagi.
Kembali
suara tawa pecah diantara kami. Beberapa anak melihat ke arah kami. Mungkin
mereka pikir kami adalah sepasang anak yang kurang perhatian dari kedua orang
tua. Hingga sampai sebesar ini masih suka main hujan-hujanan.
Suara
derikkan pintu yang berkarat memecah lamunanku. Aku sadar. Waktu memang telah
berlalu. Sinar matahari telah hampir kembali ke sarang. Terlihat seorang anak
yang cukup ku kenali berjalan ke arahku.
Adzan
Maghrib hampir berkumandang. Aku dan Alfia masih dalam perjalanan pulang dengan
menapakki setiap centi aspal hitam legam yang baru saja tersiram air
keberkahan. Seperti biasanya saja, tawa selalu menghiasi kami. Entah kapanpun
dan dimanapun. Bahkan dalam posisi seperti ini. Tak perdulikan orang sekitar.
Ngga pernah ada kata jaim ataupun gengsi diantara kami. Banyak orang mengira
kami ini saudara. Tapi menurut kami, ini bukan hanya saudara, tapi lebih dari
itu.
Ku
rasakan tepukkan tajam di pundakku serta lambaian tangan tepat di depan mukaku.
Aku terkesiap cepat. Mencoba memastikan keadaan sekitar baik-baik saja
“Tuh
Nis.. udah dijemput di depan..”, ucap anak yang baru masuk tadi.
“Eh
kamu Ti, udah lama disini?”, tanyaku memecah kebingungan.
“Ye..
udah dari tadi. Kamu aja yang ngelamun dari tadi. Tuh udah dijemput di depan.
Kasihan mamahmu udah nunggu”
“Em..
makasih infonya. Iya deh sorry..”
“Kesambet
setan sekolah baru deh ngerasa. Tumben ga balik sama Alfia?”, tanyanya datar
tapi tajam.
Aku
tertegun sejenak. Mencoba mencerna
kalimat terakhir Tiar. Tumben ga balik
sama Alfia?.
“Eh..
em.. aku duluan ya Ti, kasihan mamah udah nunggu di depan”, ucapku mengalihkan
pembicaraan.
Aku
segera berlalu meninggalkan Tiar yang juga sudah ditunggu oleh teman satu
kostnya.
Langkahku
cukup cepat dan dalam. Namun melambat
seketika melewati dua sosok anak hawa yang dari tadi kumata-matai dari dalam
kelas. Ingin rasanya aku menarik salah satu dari mereka lalu ku ajak pulang
bersama. Mengulang masa-masa indah sebelum semuanya berubah. Niat itu nampaknya
tak di restui. Teringat wajah mamah yang sudah menungguku di depan.
Ku
tambah kecepatan langkah saat melewati dua anak hawa yang sedang bercanda tawa
tersebut. Hatiku miris. Hatiku marah. Hatiku jengah.
***
Aroma
parfum yang baru saja ku semprotkan ke tubuh mulai tercium oleh indra
penciumku. Setelah ku pastikan semua ritual pulang sekolah telah kulakukan
seperti mandi dan makan, ku rebahkan tubuhku ke atas kasur. Ku ambil sebuah
bingkai foto yang tampak dua orang gadis remaja dengan pose narsis masa kini.
Ku tatap dalam sedalam mungkin. Beberapa kenangan mulai mengitari kepala dengan
tarian serta nyanyian yang penuh kenangan. Bulir air mata kembali membasahi
pipi ini. Tak tau apa alasan air mata itu mengucur deras. Mungkin saja aku
benar-benar ingin mengulang masa-masa di dalam foto itu. Mungkin saja aku rindu
dengan kebersamaan itu. Mungkin saja aku rindu dengan orang yang ada dalam foto
itu.
Ku
sobek sebuah kertas. Ku tulis isi hati ini untuknya:
Hai sobat.
Apa kabar kamu? Semoga baik-baik
saja. Aku benar-benar rindu kamu. Rindu kebersamaan kita saat itu.
Sungguh ingin ku ulang masa-masa
bahagia seperti tak ada dosa diantara kita.
Dulu kita pernah dekat. Bahkan
sangat dekat. Hingga kita benar-benar menjadi jauh seperti orang asing yang tak
pernah kenal satu sama lain,
Tahukan sobat? Aku kangen dengan
segala celotehmu. Aku kangen dengan semua gosipan kita tentang siapapun yang
lewat di depan muka. Aku kangen dengan panggilan khas dari kamu.
Namun apa daya. Nampaknya kamu
sudah punya teman baru yang lebih baik dari aku. Yang mungkin akan selalu ada
untuk kamu.
Kalau kamu tau alasanku menjauh
dari kamu. Mungkin kamu akan tertawa terbahak-bahak. Atau bahkan kamu akan
berpikir bahwasanya aku benar-benar tidak bisa dewasa. Kalau kamu benar-benar
sungguh ingin tau alasannya. Ini dia alasannya.
AKU IRI DENGAN DIA YANG SELALU
BERSAMA ORANG YANG BENAR-BENAR AKU KASIHI. ORANG YANG SELALU ADA UNTUKKU. AKU
TAKUT KAMU GAK AKAN PEDULIKAN AKU SETELAH ADA DIA.
Itu alasannya sobat. Sepele kan?
Kalo kamu pikir aku egois. Aku memang egois. Bahkan sangat egois, karena aku
pikir kamu hanya untukku dan aku untukmu. Tapi kini ku coba berpikir sedikit
dewasa.
Semoga kamu membaca surat ini. Aku
sayang kamu. Aku rindu kamu. Aku rindu kita yang dulu. Yang selalu bersama
kemanapun tujuannya. Ingat motto kita kalo lagi lapar? "Beli
makan yang enak, murah, banyak".
Aku ingin ada tawamu setelah terucap kalimat itu. Sungguh. Aku rindu kamu.
Kembalilah seperti dulu. Aku sangat
sayang kamu. Maafin semua salahku
Sahabatmu yang manis,
*NB: kalo kamu tau aku nulis ini
sambil nangis sungguh. Kayak anak kecil banget kan?
Ku
lipat surat itu. Ku masukkan ke dalam sebuah amplop dan sebuah foto ku
lampirkan di dalamnya.
***
Pagi
yang cerah. Aku mencoba mengendap masuk ke kelasmu saat ku pikir kau tak ada.
Ku masukkan sebuah amplop yang berisi surat hati yang kutulis dengan tinta air
mata.
Pundakku
terasa berat seketika, seperti ada yang memberi beban 10 kg ke arahku. Ku
balikkan badan. Terkejutnya ketika itu engkau. Sungguh tak tau apa yang ingin
ku katakan. Air mata deras kembali mengalir. Pelukan hangat ku tujukan kepada
engkau begitu saja. Aku tak sanggup berkata-kata. Kau pasti bingung apa yang
terjadi denganku. Ku surungkan sebuah amlpop yang hendak ku masukkan ke dalam
tasmu.
Kau
buka amplop itu secara perlahan. Seperti itu pula hatiku yang sedang menanti
jawaban. Tak kusangka air mata juga mengalir deras dari pipimu. Beribu ucapan
maaf kau ucapkan untukku. Pelukkan hangat kembali terjadi diantara kita. Tak
peduli orang sekitar melihat kita seperti apa.
“Maafin
aku yang selama ini udah nyuekin kamu Nis. Aku salah”, ucapnya pelan terisak
tepat di samping telingaku.
Aku
ga sanggup berkata-kata. Hanya tangisan sesenggukkan yang menjawab ucapan
Alfia.
“Aku
janji aku ga akan nyuekin kamu lagi”, ucapnya lagi.
Hatiku
yang sedang dilanda musim kemarau, tiba-tiba diberi air hujan dan langsung
bersemi kembali bunga-bunga. Bunga-bunga bermekaran di dalam hatiku.
Benar
kata orang ‘Kita cemburu bukan ketika
mantan pacar punya pacar lagi, tapi ketika sahabat kita punya sahabat baru dan
ngelupain kita’.
Serta ‘Ujian dalam setiap persahabatan itu untuk
menguatkan satu sama lain, melihat siapakah yang benar-benar setia’
Semoga
esok ga ada lagi yang namanya pertengkaran. Semoga esok kembali bahagia. Semoga
esok seperti dulu. Semoga yang ada hanya tawa bahagia


Komentar
Posting Komentar