Langsung ke konten utama

Karena Aku Ada Untuk PMR dan PMR Ada Untukku



Karena Aku Ada Untuk PMR dan PMR Ada Untukku

“Pokoknya Papah sama Mamah nggak setuju kamu ikut acara begitu!”, ucap seorang laki-laki yang berusia sekitar 40 tahun lebih ke arah remaja putri yang merupakan sang putri.
“Tapi Pah, Mah, aku ikut acara seperti itu karena peduli terhadap sesama dan dalam organisasi itu aku baru tahu bagaimana pertemanan yang sejati itu”, ucap sang putri yang bernama Nindiya.
“Terserah kamu Nin, pokoknya kalo kamu ikut acara itu Papah nggak segan untuk melepas semua fasilitas yang Papah sama Mamah kasih buat kamu”, kata laki-laki tersebut lalu pergi, yang merupakan ayah Nindiya.
Nindiya hanya bisa menangis dan berlari menuju kamarnya dilantai atas. Sang Mama hanya bisa menenangkan keadaan sang putri yang berada dalam kebimbangan dalam menentukkan pilihan. Nindiya terus melangkahkan kakinya menapaki anak tangga satu demi satu sampai berhasil memasuki kamar terindah dan teristimewa miliknya.
Ia duduk di atas sofa kecil yang terletak di depan kasurnya. Kakinya Ia lipat dan kepalanya Ia tundukkan menghadap lututnya. Suara tangis kembali terdengar oleh benda disekitar Nindiya berada. Bulir air mata semakin deras membasahi pipi putih Nindiya saat dirinya mengingat wajah mengharap dari teman-temannya akan kehadirannya di acara tersebut.
Nindiya merupakan anggota PMR yang sangat aktif di sekolahnya. Ia merupakan seorang maskot bagi seluruh temannya. Banyak piala yang berhasil Ia sumbangkan untuk sekolah tempatnya menimba ilmu. Namun orang tua Nindiya menolak keras dengan kegiatan sang putri yang sangat baik. Dari awal saat Nindiya memutuskan mengikuti organisasi PMR, orangtuanya menentang keras. Beberapa fasilitas Nindiya memang sudah dicabut, tapi masih ada beberapa fasilitas yang diberikan orangtuanya dengan konsekuensi Nindiya harus mendapat nilai diatas 90 disetiap pelajaran di sekolahnya.
Kemarin Nindiya ditunjuk untuk mengikuti Jumbara Daerah untuk tingkat PMR Wira. Nindiya tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Namun setelah Ia meminta keputusan kepada Mama dan Papanya, Ia menjadi galau setengah mati.
Suara sesenggukkan masih terdengar dari Nindiya. Tapi suara itu berhenti seketika saat Ia mendengarketukkan pintu dari arah luar kamarnya. Ia urung untuk mengetahui siapa yang mengetuk pintu kamarnya. Ia sedang tidak ingin diganggu. Namun rasa penasaran mengalahkan keinginannya untuk tetap berada di sofa tersebut. Ia langkahkan kakinya dengan irama menapaki ubin-ubin keramik kamarnya.
Gerendel pintu mulai terbuka. Terlihat sosok wanita keibuan berdiri di depan Nindiya. Ia seperti meminta izin untuk masuk ke kamar putrinya. Nindiya hanya memberi isyarat sebuah anggukkan tanpa suara sedikitpun keluar dari bibirnya.
“Sayang, mama bisa bantu kamu untuk tetap ikut Jambore itu. Tapi mama nggak bisa jamin 100% Papa kamu nggak tahu. Kamu tahu kan Papa kamu itu nggak suka kamu ikut acara itu”, ucap Mama Nindiya.
Senyum simetris Nindiya mengambang di bibirnya yang tipis. Ia memang tahu sikap sang Papa jika beliau tahu apa yang dilakukan dirinya.
“Mama beneran? Tapi nanti kalo Papa tahu, mama pasti dimarahin”, ucap Nindiya bergetar karena telah menangis tadi.
Kini gantian sang Mama yang mengangguk dan tersenyum manis kepada Nindiya.
“Ya udah sekarang kamu tidur ya. Jumbara kan sebentar lagi, kamu harus banyak istirahat!”, ucap Sang Mama yang lalu mengecup kening Nindiya dan meninggalkan kamar Nindiya.
***
Mentari telah menampakkan sinarnya yang lembut ditemani angin yang mengalun menyentuh kulit.
Nindiya sudah berada di UKS sekolahnya. Ia mempersiapkan berbagai alat untuk keperluan Jumbara yang akan diselenggarakan sebentar lagi. Ia memang belum mendapat kepastian apakah dirinya diizinkan oleh orangtuanya untuk mengikuti kegiatan ini. Namun jika Ia mengingat ucapan sang Mama hatinya sedikit lega.
Terlihat seorang anak laki-laki yang terlihat sebaya dengan Nindiya mendekat ke arahnya. Langkahnya tidak terlalu cepat namun ada ritmenya. Nindiya yang sedang mempersiapkan segala sesuatu menjadi bingung dengan keadaan yang sedang dihadapinya. Ia bingung entah apa yang harus Ia lakukan.
“Hai Nin, apa kabar? Kamu bisa ikut Jumbara besok kan?”, sapanya ramah dan lembut disertai senyum manis mengambang di bibir bersihnya.
“Eh...em.. hai, baik kok. Kamu gimana? InsyaAllah sih bisa. Kamu ikut kan Ndri?”, ucap Nindiya kepada temannya tersebut yang bernama Andri. Nindiya sedikit salah tingkah.
“Aku juga baik kok. Bagus deh kalo kamu ikut. Eh, em.. maksud aku..”, ucapnya terpotong yang melting dengan sikap Nindiya yang ramah dengannya.
Nindiya sedikit bingung dengan sikap Andri kepadanya.
“Bagus? Emang kenapa?”, ucap Nindiya penasaran.
“Eh, nggak usah dibahas itu tadi. Aku salah ucap. Aku bantu ya, pasti masih banyak kan?”, ucapnya masih gugup.
Nindiya hanya mengangguk disertai dengan senyuman yang mengambang di bibir tipisnya. Entah apa yang dirasakannya saat ini.
Tak begitu lama mereka mempersiapkan segala kebutuhan untuk Jambore, suara bel tanda mulainya pelajaran mulai terdengar oleh seluruh siswa. Suara bel pun menjadi akhir pertemuan antara Nindiya dengan Andri di ruangan UKS. Andri menawarkan Nindiya untuk mengantarkan Nindiya menuju kelasnya, namun belum selesai menwarkan Nindiya langsung menolak tawaran Andri karena Ia tak ingin membuat gosip yang bisa mencemarkan nama baik Andri yang populer di sekolahnya. Akhirnya mereka melangkahkan kaki masing-masing untuk menapaki ubin keramik yang tertempel di lantai sekolah.
Tak terasa suara bel penanda istirahat telah berbunyi membuat hati seluruh siswa riang gembira. Langkah kaki mereka membuyar bertebaran di seluruh penjuru sudut sekolah. Begitu juga dengan Nindiya dengan seluruh temannya pergi menuju kantin yang modern di sekolahnya.
Meja bernomor 20 telah diselubungi beberapa siswi perempuan yang salah satunya adalah Nindiya. Terdengar obrolan hangat dari bibir masing-masing siswa. Obrolan yang mendominasi tentang Jumbara yang akan dilaksanakan besok. Beberapa dari mereka mengobrol persiapan acara besar tersebut.
“Kamu boleh ikut kan Nin?”, tanya salah satu siswi yang rambutnya ikal.
Nindiya mengangguk ragu. Senyum simpul yang terkesan terpaksa juga Ia pasang di bibir tipisnya agar tidak dicurigai oleh temannya.
“Oh iya, kita mau pesen apa nih? Nin, kamu yang bayar dulu ya pake credit card kamu!”, ucap siswi yang rambutnya dikuncir kuda berharap jawaban ‘Ya’ dari Nindiya. Namun Nindiya tidak menjawab, Ia kembali memberi isyarat anggukan dan berharap seluruh ucapan sang papa tadi malam tidak benar-benar terjadi.
Makanan telah dipesan dan beberapa dari mereka mulai memasukkan makanan tersebut satu per satu ke dalam mulutnya masing-masing. Tak berapa lama makanan itu telah habis dan hanya tersisa piringnya saja. Nindiya melangkahkan kakinya menuju meja kasir yang terletak di pojok ruangan.
“Ini bu, pake credit card bisa kan?”, ucap Nindiya yang sedikit ragu karena takut ucapan sang papa benar terjadi. Penjaga kantin itu hanya mengangguk disertai senyum. Ia menggesekkan credit card milik Nindiya.
“Maaf de, ada yang lain? yang ini sudah tidak berlaku”, ucapnya masih ramah.
Wajah Nindiya kini menjadi bingung. Ia mengambil credit card miliknya yang lain. Penjaga kantin pun kembali menggesekkannya, namun hasilnya nihil. Dengan langkah gugup Nindiya kembali ke meja tempat temannya berada.
“Credit card aku udah diblokir sama papahku. A..ada yang punya uang cash?”, tanya Nindiya dengan suara parau karena Ia takut temannya tidak membawa uang.
“Ya udah nggak apa Nin, aku bawa cash kok. Ya udah aku ke kasir dulu ya!”, ucap Tasya yang dikuncir kuda. Nindiya tersenyum simpul terkesan dipaksa.
“Nin, kamu ada masalah lagi sama papahmu tentang PMR?”, tanya Indah yang berambut ikal.
“Iya. Papahku nggak bolehin aku ikut jumbora, beliau juga mengancam kalo aku tetap ikut semua fasilitas aku akan dicabut dan itu sudah mulai terjadi. Kamu tahu kan gimana sikap papahku yang keras?”, ucap Nindiya yang lalu menghembuskan napas panjang karena telah mengeluarkan seluruh beban yang mengganjal di hati dan otaknya.
“Kalo menurut aku sebaiknya kamu tetep ikut aja, bukannya aku provokasi kamu. Tapi kalo nanti kita juara itu bisa membuat Papah kamu terbuka hatinya”, ucap Indah yang baru datang dari meja kasir.
“Mamahku juga udah setuju, tapi nggak tahu lah. Aku bingung”, ucap Nindiya pucat.
“Ya udah, berdoa aja semoga ada keajaiban. Sekarang kita masuk kelas dulu, tuh udah bel!”, ucap Tasya.
***
Tenda mulai terpasang di sebuah lapangan yang cukup luas. Patok-patok pun mulai tertancap di tanah yang diselimuti oleh hijaunya rerumputan. Terlihat Nindiya bersama seluruh tim satu kontingennya sedang mendirikan tenda dengan susah payah. Keringat mulai menghujani baju mereka.
“Ya, kepada peserta jumbara daerah diharap langsung berkumpul di tengah lapangan. Lomba Pertolongan Pertama segera dimulai”, terdengar suara seseorang dari speaker yang tertempel di panggung.
“Nin.. udah sana kamu pergi. Good luck ya”, ucap Tasya.
Nindiya mengangguk pelan. Ia memang tak terlalu berharap banyak kepada perlombaan kali ini. Restu orang tua tak mengalir untuk kegiatan seperti ini. Tapi Ia tetap berusaha untuk melakukan yang terbaik bagi kontingennya.
Perlombaan dimulai. Masing masing peserta dari berbagai kontingen yang mengikuti jambore mengambil kertas yang digulung kecil.
“Hah... apa aku bisa?”, batin Nindiya saat mendapat jawaban dari kertas itu.
Satu demi satu kontingen dari berbagai kabupaten dan kota di Jawa Tengah melakukan praktek untuk mendapatkan gelar juara dari jumbara tersebut. Begitu juga dengan Nindiya. Ia mencoba terlihat bersemangat dalm mengikuti pertandingan tersebut.
Tak terasa Matahari sudah kembali ke sarangnya. Langitpun sudah mulai berwarna jingga. Perlombaan pertolongan pertama telah usai. Begitu juga dengan bidang yang lain. Masing-masing bidang sudah mendapatkan juara. Tinggalah nanti malam sebagai pentas seni. Di malam ini seluruh kontingen bisa menunjukkan bakat seni yang mereka miliki masing-masing.
Panggung sudah mulai dipadati penonton dari desa sekitar tempat jumbara diadakan. Kontingen Nindiya sedang bersiap untuk menampilkan yang terbaik.
Terlihat Andri sedang berdiri di depan tenda kontingen Nindiya. Ia terlihat seperti menunggu sesuatu. Setelah menunggu cukup lama, Nindiya terlihat keluar dari tenda dengan menggunakan baju tarian tradisional yang terlihat dijahit sendiri.
“Kamu cantik banget Nin..”, ucap Andri dengan kekaguman terpancar di wajahnya. Nindiya tersenyum malu dikulum.
“I..iya makasih”, ucapnya pelan tapi anggun.
Acara demi acara telah dilaksanakan. Kontingen Nindiya telah menampilkan karya seni yang cukup mengagumkan. Saat kontingen Nindiya turun dari panggung, suara riuh penonton terdengar keras.
***
Mentari pagi sudah kembali di singgasana timurnya. Awan putih sudah mulai menemaninya menjalani hari. Suasana di perkemahan jumbara PMR sudah ramai. Beberapa kontingen sudah membereskan barang bawaan mereka karena hari ini jambore sudah selesai. Memang untuk jambore tahun ini hanya dilakukan satu hari dua malam.
“Hei.. kita siap-siap pulang yuk!”, ucap Tasya.
Nindiya yang masih termangu tak menjawab ajakan Tasya.
“Nindiya, kamu kenapa?”, tanya Tasya ramah.
“Aku takut nanti saat pulang Papah marahin Mamah gara-gara bolehin aku ikut acara seperti ini. Lagian belum tentu kita menang”, ucap Nindiya lesu.
“Nin, kamu nggak boleh bilang gitu. Kita harus optimis kalo sekolah kita bisa membawa pulang piala umum. Padahal kan kamu yang sering menang lomba, tapi kok kamu malah nggak optimis?”, ucap Andri yang ikut nimbrung.
Nindiya tersenyum simpul. Senyum yang sering Ia berikan kepada teman-temannya. Mereka kembali larut dalam berkemas untuk pulang.
Arloji mini yang melingkar di tangan Nindiya telah menunjuk pukul 10.00 siang. Kontingen dari berbagai kabupaten sudah berbaris rapi di tengah lapangan untuk mengikuti upacara penutupan dan pengumuman hasil pemenang jumbara kali ini.
Tak terasa upacara penutupan telah berakhir. Tibalah saatnya pengumuman juara umum yang begitu bergengsi. Suara pembawa acara sengaja dibuat putus-putus dan meninggi. Terlihat buliran keringat mulai membasahi wajah peserta upacara, entah karena suasana yang mulai panas atau karena gugup menunggu hasil pengumuman.
“Dan... yang berhasil mendapat piala juara umum jambore kali ini a..da...lah....”, ucap Pembawa acara yang membuat penasaran.
Sesaat hening. Tidak ada suara sedikitpun, selain suara Pembawa Acara yang dinanti.
“SMA Tunas Bangsa Meraih Cita.......”, ucap Pembawa acara tersebut yang akhirnya memecah ketegangan. Sesaat terdengar suara jeritan bahagia dari kontingen Nindiya karena berhasil merebut piala yang diidamkan setiap sekolah. Namun terdengar juga suara penyesalan dari kontingen lainnya karena tidak berhasil merebut piala tersebut.
Nindiya melangkahkan kakinya menuju panggung kehormatan untuk menerima piala bergengi tersebut. Tangannya gemetar, langkahnya cukup tidak teratur. Perlahan namun pasti, Nindiya berhasil sampai di panggung, menerima piala tersebut dan berfoto bersama. Setelah itu Ia kembali ke barisan kontingennya dan berfoto bersama teman-temannya.
“Nindiya.. apa-apan kamu?”, ucap suara yang sangat dikenal Nindiya. Suara sang Papa. Sang Papa datang bersama sang mama. Pikiran Nindiya kalut. Ia takut bahwa sang Papa akan memarahi sang mama dan dirinya. Jika hanya dirinya itu tak masalah, namun jika sang mama ikut jadi korban itu masalah besar.
“Maafin Nindiya Pa udah nggak ndengerin omongan Papa, tapi Nindiya merasa nyaman disini. Kalau pun Papa ingin marah tolong jangan marahin mama, marah saja pada Nindiya sepuas yang papa mau. Nindiya ikhlas asalkan mama tidak jadi korban amarah papa”, ucap Nindiya parau karena kerongkongannya kering. Buliran air mata membasahi pipinya dengan deras. Wajah sang papa masih menampakkan kemarahan. Ia hanya bisa pasrah dengan omelan yang akan diterimanya.
“Siapa yang mau marah sayang? Papa malah mau minta maaf, papa baru tahu kamu sangat berprestasi dibidang ini. Maafin semua prasangka buruk papa ya Nak!”, ucapnya dengan raut muka yang berubah. Nindiya yang menangis kini air matanya mulai surut. Ia kaget dengan ucapan sang Papa. Segera Ia menghambur memeluk sang Papa. Mama hanya bisa melihat dengan senyuman dan kedipan mata.
***
Nindiya berada di belakang tenda yang sedang dibongkar. Ia duduk sendiri disana. Namun tak berapa lama terlihat seorang laki-laki yang sangat dikenal Nindiya.
“Nin, aku mau ngomong. Boleh?”, ucap seorang itu yang ternyata Andri.
Nindiya hanya memberi isyarat senyuman.
“Kalo boleh jujur dari awal masuk sekolah aku udah suka sama kamu. Sebenarnya aku mau membicarakan ini kemarin saat kita di UKS, tapi karena aku pikir itu bukan saat yang pas aku urungkan niat itu. Sekarang mungkin waktu yang tepat. Nin, aku suka sama kamu. Kamu mau nggak jadi pacar aku?”, ucap Andri panjang lebar.
Nindiya kaget. Wajahnya kini berwana merah, seperti kepiting rebus. Ia bingung mau menjawab apa. Namun tidak bisa dipungkiri, hatinya bergejolak ingin segera menjawab.
“Ndri, maaf sebelumnya. Tapi aku nggak bisa..”, ucap Nindiya pelan.
Kini wajah Andri yang berubah menjadi kepiting rebus.
“Aku nggak bisa menyukai kamu Ndri, aku nggak bisa menyukai kamu. Aku hanya bisa mencintaimu setulus hati”, ucap Nindiya pelan.
“Kamu serius Nin?”
Nindiya mengangguk pasti disertai senyum simetris khasnya. Pelukan hangat Andri menghujani Nindiya.
“Iya ini memang benar. Karena aku ada untuk PMR dan PMR ada untukku. Kutemukan cintaku juga dalam PMR. PMR segalanya untukku”, batin Nindiya disertai senyum.
“Kamu kenapa Nin, senyum-senyum sendiri?”
Nindiya tak menjawab. Ia kembali tersenyum. Tak disadari Nindiya dan Andri, berpasang-pasang mata sedang mengamati mereka disertai dengan senyuman dan kebahagiaan.

Komentar

Posting Komentar