Karena Gengsi Semua Mati
Keypad ponsel
masih ku tekan secepat mungkin, berusaha beradu dengan waktu. Ingin rasanya
segera ku balas pesan singkat darimu. Ya dari kamu. Kamu yang sudah membuat
hari-hariku menjadi lebih berwarna tak seperti biasanya. Ya kamu, seorang cewe
bernama Rinta Ayodya Putri. Cewe yang bisa merubahku secara perlahan. Cewe yang
bisa mengisi ruang kekosongan di dalam hatiku.
Terdengar
dering pendek dari ponsel ku yang bisa dibilang sudah masuk seri jadul bagi
anak muda saat ini yang sudah beralih ke arah smartphone.
“Loh
kok ngga dibalas? Kamu marah ya? Maaf deh.”,
Itu
isi pesan singkat yang baru masuk ke kotak pesan ponsel jadulku. Aku mencoba
memutar otak, berusaha mencari apa yang sedang terjadi saat ini. Ku lihat pesan
dari operator. Dan hasilnya nihil. Pesan yang baru saja ku ketik barusan belum
terkirim. Aku hanya mencoba bersabar menghadapi takdir sinyal yang bisa
dikatakan setengah hidup jika berada di daerahku ini. Ku coba lagi kirim pesan
singkat itu lagi.
***
Hari
terus berlalu. Detik terus berjalan. Meninggalkan kami tanpa pamit sekelumit.
Matahari tetap muncul di ufuk timur dan tenggelam di ufuk barat. Burung tetap
keluar dari sarang saat pagi dan pulang saat petang. Semua tetap berjalan
seperti biasa.
Tetapi
aku dan Rinta berbeda. Kami semakin dekat, bahkan bisa dikatakan sangat dekat. Aku
tak tahu status hubungan apa yang sebaiknya kami katakan jiak ditanya orang.
Entah sudah pacaran atau belum. Pada intinya aku mulai mencintai dia. Dan dia?
Ah entahlah, aku tak berani menebak sedikitpun tentang perasaannya padaku. Aku
takut, bahkan sangat takut walau hanya menebak.
Bahkan
aku sudah terlampau sering untuk memberi tahu perasaanku padanya meski dalam
kalimat tersirat. Sungguh, aku tak berani mengungkapkan perasaanku padanya
secara langsung. Aku tahu dia terlalu sempurna untuk orang sekelas diriku.
Ditambah lagi dengan kecantikannya yang memikat hati setiap kaum adam yang
melihatnya.
Angin
siang mulai berdesir pelan. Membelai lembut rambutku yang hitam legam menantang
matahari. Aku masih duduk dalam diam di pinggir lapangan. Menatap jauh ke arah awan.
Pundakku terasa berat seketika seperti ada yang menimpaku cukup berat. Ku
alihkan pandangan mataku ke arah datangnya rasa berat itu. Sebuah tangan yang
berukuran lebih kecil dariku. Kupandangi sekilas pemilik tangan itu. Tangan
seorang temanku. Ya temanku, bahkan bisa dikatakan sahabat untukku.
“Ada
apa?”, tanyaku pelan mencoba memastikan apakah dia membutuhkan bantuanku.
Dia
menggeleng pelan. Tatapan matanya mengikuti tatapan mataku, tepat ke atas ke
arah awan putih bersih yang menggantung di langit.
Awan
yang digantung dilangit. Mungkin itu menggambarkan status hubunganku dengan
Rinta saat ini. Hatiku tersindir pelan oleh keadaan awan itu. Awan putih bersih
yang tak bersalah. Apakah ini salahku menggantungkan hubunganku dengan Rinta?.
Ataukah salah Rinta yang tak mau mengungkapkan perasaannya padaku?. Tapi aku
ini seorang lelaki, masa iya aku harus menunggu wanita mengungkapkan
perasaannya padaku? Ah.. rasanya otakku sudah mulai lelah dengan pemikiran
sulit seperti ini.
Ku
coba yakinkan diriku untuk memikirkan hubunganku dengan Rinta. Batinku
bergejolak entah apa yang ku rasa. Perang antara keinginan dan kenyataan terus
berlabuh. Aku ingin hubunganku dengan Rinta, namun pada kenyataannya aku
terlalu takut untuk mengungkapkan semua itu.
Beberapa
menit berlalu. Perang masih bergejolak antara keinginan dan kenyataan. Hingga
akhirnya keputusan yang tak ku sangka pun berhasil diambil. Aku memutuskan
untuk mengungkapkan perasaanku pada Rinta secara langsung. Aku tak mau dia
menunggu aku mengungkapkan perasaanku lebih lama lagi. Aku tak mau dia berada
dalam lingkaran ketidakpastian hubungan lebih lama lagi. Aku harus mengangkat
baju yang telah ku jemur beberapa bulan ini. Ya aku akan menyatakannya.
Menyatakan perasaan yang telah ku pendam selama ini hanya untuknya. Aku akan
mengungkapkannya besok. Tepat besok. Hari Ahad, akan ku ajak dia untuk jogging bareng di GOR. Tekadku telah
bulat lekat. Akan ku tunaikan.
Seketika
bibirku tertarik ke arah samping, hingga barisan gigi putihku yang berjejer
rapi nampak. Ku ambil ponsel jadulku. Ku kirim pesan singkat padanya tentang
ajakanku itu.
“Kamu
kenapa?”, tanya Bekhti yang dari tadi duduk disampingku. Mungkin Ia melihat
segala perubahan yang terjadi padaku. Dari muka kelamku di awal dan muka
sumringahku di akhir.
Aku
hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Bekhti. Aku terlalu mengakui kepada orang
lain, bahkan temanku sendiri.
“Udah
cerita aja lagi”, ucapnya lagi dengan penuh penasaran.
Aku
kembali menggelengkan kepala disertai senyuman tanpa kalimat meluncur dari
bibirku. Sejenak hening, tak ada pembicaraan antara aku dan Bekhti. Aku sibuk
dengan pikiranku untuk mengungkapkan perasaanku kepada Rinta secara langsung.
Aku tidak mau moment pengungkapan perasaanku kepada Rinta yang telah aku tunggu
lama, hasilnya kurang maksimal.
“Eh,
kamu tau nggak?”, tanyanya membuka pembicaraan.
Aku
hanya mengangkat bahuku. Entah apa yang merasuki tubuhku, sehingga tidak ada
sepatah katapun yang keluar dari mulutku.
“Katanya
Rinta pacarnya Hendar ya?”, tanya Bekhti tajam menusuk ulu hatiku.
Aku
terdiam. Meresapi ucapan Bekhti barusan. Ku coba yakinkan diri bahwa aku tak
salah dengar ucapan. Ucapan yang layaknya kilat di siang bolong. Menyambar
secara cepat dan tidak ku sangka-sangka.
Hatiku
terasa remuk dan pecah menjadi berkeping-keping. Entah apa rasa yang sedang aku
rasa.
“Kata
siapa emang?”, ucapku gemetar.
“Katanya
temenku yang satu kelas sama Hendar..”, ucap Bekhti tak bersalah.
Ia
memang tak salah. Tak sepatutnya aku menyalahkan Bekhti dalam masalah ini. Ia
tidak tahu menahu soal masalah ini. Harusnya aku malah berterima kasih atas
informasi yang telah dibawanya itu. Meski tajam dan menyakitkan.
Rinta.
Sejahat itukah dia?. Tak memberi tahu diriku, bahwa dia telah ada yang
memiliki. Lalu bagaimana dengan planning
ku esok pagi bersamanya. Apakah harus ku batalkan planning itu, hanya karena masalah yang belum ku tahu
kebenarannya?. Atau aku memang harus melepas Rinta, orang yang ku sayangi saat
ini?.
“Heh..
kamu kenapa sih?”, tanya Bekhti mengguncang pundakku.
“Aku
ngga apa. Aku izin pulang dulu ya, ngga enak badan nih. Izinkan sama komandan
ya”, ucapku pelan hamper tak terdengar.
Ku
tinggalkan lapangan yang masih dipenuhi oleh anak Paskibra yang sedang berlatih
untuk menyiapkan upacara esok pagi. Aku tak tahu, apakah yang ku lakukan ini
adalah tindakan seorang pria sejati atau pria yang sedang putus cinta?. Cukup
orang lain yang tahu aku yang menilaiku.
***
Pagi
telah menyapa dengan semua keindahannya. Embun mulai menetes membawa
keberkahannya. Matahari mulai bersinar dengan segala kegarangannya. Suara
nyanyian burung menjadi back song merdu,
menemani orang yang ingin berolahraga di GOR ini.
Ku
langkahkan kakiku untuk mengelilingi satu putaran GOR ini, sambil mencari
keadaan Rinta. Ya, planning ku memang
ku laksanakan sekaligus untuk mencari kepastian antara Hendar dengan Rinta.
Secercah
harapan memang masih tersisa, karena aku belum mendapat penjelasan langsung
dari yang bersangkutan, Rinta. Aku hanya mendengar kabar-kabur dari teman-teman
yang se-angkatan denganku. Harapanku masih sama, aku bisa menjadi bagian
pengisi hati yang masih kosong.
Terlihat
seorang cewe berperawakan sedang menggunakan kaos biru lengan panjang dikombinasikan
dengan celana training dibalut dengan
kerudung yang berwarna senada, ditambah sepatu dengan warna putih bersih.
Aku
mendekatinya perlahan. Ingin rasanya ku sapa dirinya. Ya, dirinya yang telah
membuatku bingung akan perasaan hatiku saat ini. Tapi mengapa tiba-tiba rasanya
lidahku menjadi kelu, tak bisa berbicara sedikitpun.
“Kha..
kamu kenapa?”, tanyanya pelan sedikit mengagetkanku.
Kembali
dan tetap sama. Hanya isyarat yang ku keluarkan. Sedikit gelengan kepala dan
senyum palsu ku coba pancarkan untuknya.
Tiga
putaran telah ku dapat pagi ini. Kami beristirahat di bawah pohon yang asri
ditemani oleh candaan sekelompok burung. Ku beranikan diri untuk membuka
pertanyaan.
“Rin,
aku mau bertanya..”, ucapku pelan dan bergetar.
Ia
hanya menganggukkan kepala, disertain senyuman yang mengisyaratkan bahwa aku
boleh bertanya kepadanya.
“Apa
benar kamu ada hubungan dengan Hendar”, tanyaku hati-hati, takut Ia salah
paham.
Seketika
Ia hentikan aktivitasnya yang sedang minum air putih.
“Siapa
yang bilang?”, tanyanya gugup.
“Ya
ada lah, orang yang bilang. Emang bener ya?”,
“Emang
kalo iya kenapa, dan kalo engga kenapa?”, tanyanya dengan nada bercanda.
Aku
hanya diam. Tak kutanggapi nada candaan yang telah Ia buat. Sesaat hening. Ini
adalah saat-saat mencekam. Ini adalah saat-saat dingin.
“Iya,
aku emang sama Hendar”, ucapnya pelan, tajam, menusuk tepat di ulu hatiku.
Keadaan ini sama saat Bekhti mengucapkan kalimat itu padaku.
Aku
masih mencoba mengatur nafasku yang terengah-engah dan kaget dengan apa yang
baru saja diucapkan oleh Rinta. Ku coba pasang tampang tidak sedih atau bisa
dikatakan pura-pura kuat.
“Wah,,
selamat ya Rin. Semoga langgeng”, ucapku tak ikhlas.
Sejenak
hening lagi. Aku tak tahu apa yang akan ku katakan.
“Rin
aku mau bicara. Sejujurnya dari dalam hatiku yang paling dalam, aku telah
menyimpan rasa untukmu dan telah lama aku pendam sendiri. Tapi nampaknya
perasaan ini tidak akan terbalas, karena ini hanya perasaan sepihak. Mungkin
dia memang lebih baik dari aku, sehingga kamu lebih memilih dia. Selamat ya,
tapi sejujurnya di dalam relung hatiku…”, ucapku terputus. Tak kuat rasanya.
“Tapi
apa?”, tanyanya bergetar.
“Tapi
sejujurnya di dalam relung hatiku, namamu masih ada dan tertulis dalam disana
sebagai orang yang aku cintai saat ini. Mungkin aku akan tetap menanti, hingga
aku bosan dengan penantian ini”, ucapku. Aku tak sadar telah meluapkan
semuanya.
“Kha..
maaf atas semua kesalahanku. Kalaupun aku boleh jujur, sesungguhnya perasaan
yang sama sempat muncul untukmu beberapa waktu lalu. Tapi aku pikir kamu masih
mengharap kehadiran Putri, sehingga aku tak mau berharap banyak. Dan jujur, aku
pun pernah menyayangi kamu. Kamu pernah mengisi sejenak bagian di hatiu”,
ucapnya.
“Masih
banyak cewe diluar sana yang menunggu kamu. Masih banyak ribuan cewe yang lebih
baik dariku dan lebih berhak mendapatkan lelaki baik seperti kamu. Aku ini
tidak sempurna Kha..”, ucapnya.
“Mungkin
ini karena kesalahanku yang terlalu lama menggantung kamu dalam hubungan ini,
gula jawa. Ini karena sebuah gengsi untuk mengungkapkan perasaan, dan akhirnya
semua mati ditelan waktu”, ucapku
“Teamo[1]…..”,
ucapku seraya meninggalkan Rinta.
Aku
sudah tak sanggup melihat wajahnya. Wajah orang yang aku cintai. Meski akan ada
luka menganga di dalam hati, tapi aku akan bahagia jika melihat dia bahagia.
Meski itu akan membutuhkan proses yang lama untuk melupakannya, tapi aku akan
mencoba.
Baju
yang telah ku jemur ternyata telah diangkat oleh orang lain. Ini murni karena
kesalahanku. Aku terlalu memakan gengsi. Antara aku dan Rinta sama-sama gengsi
untuk mengungkapkan perasaan masing-masing. Meski pernah pengungkapan dalam
kalimat tersirat, tapi semua itu membutuhkan yang langsung dan tepat. Hingga
waktu menjawab, aku kalah cepat.
Komentar
Posting Komentar