Kini Aku dan Kamu Itu……
Diriku
masih terdiam dalam angan yang membuatku terbang membayangkan kejadian barusan.
Tetesan bulir mutiara mulai berderai tak terkira. Tak kuperdulikan orang-orang
yang ada di sekitarku. Orang-orang yang pasti bertanya sedang apa diriku,
menekuk lutut dan menundukkan kepala secara dalam.
Perasaanku
masih berkecambuk tak tentu. Entah bagaimana rasanya ingin ku ekspresikan
keadaanku saat ini. Ingin ku meronta dan berteriak namun tak mungkin. Jadi
hanya buliran mutiara yang menyelimuti pipiku.
Pundakku
yang terasa ringan kini tiba-tiba terasa berat seperti ditindih sesuatu.
Perkiraanku tidak meleset karena nyatanya benar saja ada sebuah tangan yang
mendarat lembut di pundakku. Ku angkat kepalaku untuk melihat tangan siapa itu.
Sebenarnya tanpa melihat orangnya pun aku sudah bisa menebak, namun sekedar
memastikan dan menghilangkan rasa penasaranku ku tatap juga pemilik tangan itu.
Senyum
disertai deretan gigi putih berbaris rapi terpancar dari pemilik tangan itu.
Orang yang ku kenal. Bahkan tidak hanya kenal, tetapi sangat kenal. Seketika ku
usap buliran air mata yang menyelimuti pipiku, aku tak mau terlihat lemah di
depannya. Ku pasang senyum simetris di area wajahku. Namun, nampaknya itu tak
berfungsi apa-apa karena orang di depanku sudah mengetahui apa yang baru saja
aku alami.
“Kamu
kenapa?”, tanyanya lembut. Ini yang membuatku selalu kelu saat ditanya olehnya.
Gelengan
kepalaku menjadi isyarat jawaban atas pertanyaan yang Ia lontarkan barusan.
Namun sepertinya Ia kurang puas dengan isyarat jawaban gelengan kepala dariku.
“Udah
cerita aja lagi. Kamu itu kayak baru kenal aku aja. Kita kan udah lama banget
kenal”, ucapnya lebih ramah lagi.
Ini
yang membuatku tak bisa menyembunyikan sesuatu darinya. Akhirnya runtuhlah
benteng pertahananku untuk tidak bercerita kepada siapapun tentang masalah ini.
Ya
dia temanku, yang bisa dianggap cukup dekat. Aku tahu dia, tapi mungkin dia
tidak terlalu tau aku. Kami baru dekat saat kenaikan kelas ini. Orang yang
selalu ada saat aku membutuhkannya. Tapi aku tak tahu, apa aku selalu ada saat
dia membutuhkanku. Namanya Radian. Sekilas jika orang tak mendengar dari awal
pasti menyangkanya adalah sebuah satuan dalam pelajaran Fisika. Ia orang yang
sangat sabar menghadapiku. Selalu menasehatiku, entah saat aku malas atau saat
prestasiku menurun.
“Kamu
itu mau-maunya dibohongi cowo ya. Makanya jangan terlalu berharap. Jadinya gini
kan? Jadi korban PHP lagii…”, ucapnya diselingi tertawa.
Aku
hanya melihatnya dengan mata sembab dan menonjol dengan warna merah. Hanya
senyum tipis yang terkesan terpaksa mendarat di bibirku. Sejenak hening. Aku
tak mengambil alih pembicaraan begitu juga dengannya.
“Ya
udah, pulang yuk!”, ajakku membuka percakapan yang terkesan dingin.
Dia
hanya mengangguk dan mengikuti arah langkahku dari belakang menuju ke parkiran
sepeda motor. Tak berapa lama, kini Ia sudah ada di depanku dengan membawa
motornya. Aku memang sering nebeng pulang dengannya karena jalan pulang kami
satu arah. Dan aku pikir Ia tidak berkeberatan untuk menebengi ku.
Perjalanan
yang kelu. Tak ada sedikit pun percakapan antara kami. Hanya sesekali saja
Radian bertanya padaku tentang suatu hal sepele. Mungkin Ia ingin menanyakan
lebih lanjut dengan masalah yang baru saja aku hadapi, namun rasanya tak
mungkin untuk mengungkit kesedihan. Maka dari itu Ia tak bertanya soal hal itu.
***
Mentari
sore masih bertengger anggun di langit biru yang cukup cerah. Hari ini aku
masih berada di sekolah mengerjakan tugas yang menumpuk, ditemani oleh beberapa
temanku dan yang pasti Radian.
Ku
lihat Radian mengambil gitar dan memainkannya di hadapanku. Aku masih acuh
terhadap apa yang dinyanyikannya, dan masih asyik dengan tugas-tugas yang
rasanya tiada lelah untuk mengerubungiku.
Ah mungkin bagi dirimu
Hanya teman sekelas saja
Yang pulang jalannya searah
Keberadaan yang seperti angin
Hingga
tiba pada syair itu, aku meletakkan pulpen yang dari tadi lengket di tangan dan
keyboard laptop yang dari tadi aku
sakiti dengan memencetnya secara terus menerus, serta touch pad yang dari tadi ku usap dengam sedikit kasar karena
lelahnya menjalani hari ini.
Ku
pasang telinga ku lebih tajam, agar aku tak salah dengar. Nyatanya tak ada
perubahan kata dari pendengaranku. Radian benar-benar menekan suaranya agar
terdengar sangat jelas untukku. Ini entah hanya perasaanku atau mungkin
kenyataannya seperti itu.
Mengapa
dia menekan syair tepat pada bagian itu? Mengapa Ia saat menyanyikan lirik itu
menatap tajam ke arah mataku? Tuhan, apa ini hanya perasaanku saja? Atau ada
apa gerangan? Membuat kesalahan apa aku padanya?. Seketika pertanyaan seperti
itu menggelayuti otakku yang dari tadi tak pernah berhenti berputar memikirkan
bagaimana cara menyelesaikan tugas-tugas ini.
Kini
ku tatap balik matanya. Mencoba lebih tajam dari tatapannya kepadaku. Mencoba
mencari maksud mengapa Ia menekan syair itu dan menatap tajam ke arahku.
Gitar
yang dari tadi ada bersamanya, kini telah Ia lepas. Tatapan tajam matanya
kembali tertuju ke arahku. Ku coba palingkan tatapan mataku dari arah matanya.
Namun itu tak terlalu berpengaruh, Ia semakin tajam menatapku. Keringat ku
mengucur deras dari pelipis. Ku coba menghapus keringat yang menetes itu. Ku
lirik lagi ke arah wajahnya. Masih tetap sama seperti tadi, tak ada bedanya.
Kini semakin tajam. Terlihat bibirnya seperti berucap sesuatu. Ku perhatikan
dengan seksama apa yang sebenarnya diucapkan olehnya.
“Aku
mau ngomong sesuatu boleh?”, tanyanya masih dengan tatapan seperti tadi.
Aku
mencoba mengangguk, belum berani menatap matanya secara penuh. Hanya beberapa kali
lirik saja.
“Apa
kamu tau maksud dariku saat menekan lirik itu?”, tanyanya dalam.
Aku
menggeleng pelan. Mencoba mencerna kalimatnya secara perlahan.
“Mungkin
ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan hal ini. Tapi apa kamu tau, makna
dari lirik itu sangat besar untukku?”
Aku
masih terdiam kelu. Mencoba mengingat lirik yang baru saja diucapkan oleh
Radian. Seketika ku lihat ke arah sekelilingku. Terlihat berpasang-pasang mata
menatap ke arahku.
“Aku berharap kamu nggak anggap aku cuma
sebagai teman yang selalu pulang bareng satu arah..”, ucapnya terpotong.
“Aku
suka sama kamu. Cuma kamu ternyata lagi ngarepin orang lain. Aku yakin kamu
belum bisa move on dari orang yang kamu harapin itu. Meski kamu nggak pernah
cerita nama orang itu, tapi tetep aja ada sedikit rasa pemberontakkan dari
sini”, ucapnya sambil menunjuk ke arah dadanya.
Aku
mencerna kalimat Radian lebih hati-hati saat ini. Meski kamu nggak pernah cerita nama orang itu, tapi tetep aja ada
sedikit rasa pemberontakkan dari sini. Kata itu yang membuat sulit untuk di
cerna. Aku memang masih merahasiakan nama orang yang sedang aku harapkan
padanya. Tapi apa dia benar-benar tidak tau?
“Aku
suka sama kamu”, ucap Radian pendek, jelas, dan singkat.
Rasanya
darahku berhenti dan memecahkan pembuluh darah. Hatiku berdesir tidak keruan.
Aku mencoba meyakinkan ucapan Radian barusan.
“Kamu
suka sama aku? Tapi, kamu kan masih inget sama masa lalu kamu”, ucapku
bergetar.
“Iya,
tapi itu dulu. Dulu banget, dan sekarang hatiku udah ada yang memiliki lagi. Tapi
kayaknya hati kamu udah ada yang memiliki”, ucapnya pelan pada bagian akhir.
Aku
mencoba terdiam sebentar.
“Lalu,
soal kamu boncengan sama dia kemaren? Sama mantan kamu itu loh? Kalian juga
masih sering kontak kan? Kenapa ngga balikan aja?”, ucapku tajam pada kata balikan lagi.
Radian
menampakkan gigi yang telah berjejer dengan rapi dan putih. Mungkin Ia merasa
menang.
“Kamu
cemburu? Atau gimana?”
Pipiku
bersemu merah jambu. Aku tak sanggup berkata-kata. Aku tak mampu membohongi
jika ditanya hal seperti ini.
“Oh
kamu cemburu ya? Maaf deehh… terus gimana? Kamu suka nggak sama aku?”, tanyanya
dengan senyum penuh kemenangan.
Hanya
anggukkan kecil yang muncul menjawab inti semua pertanyaan dari Radian yang
datang bertubi-tubi dari tadi. Terlihat kepalan tangan dari Radian dilontarkan
ke arah atas sebagai tanda keberhasilan.
“Rad,
kamu tau ngga orang yang udah buat aku nangis waktu itu siapa?”, tanyaku pelan.
Radian
menggeleng tak tahu. Tak ada sedikitpun rasa bersalah yang muncul dari dirinya.
“Emang
siapa?”, tanyanya mencoba mencari jawaban dariku.
“Itu
kamu tau. Lagian kamu sih, boncengan sama mantan di depanku”, ucapku lirih.
Ia
hanya kembali cengengesan dengan senyum penuh kemenangan.
“Sebenernya
aku udah tau kalo kamu suka sama aku, Cuma aku yakinin diriku dengan cara gitu.
Ternyata tebakanku ngga salah ya”, ucapnya lagi.
Aku
hanya mengacak rambutnya dan mencubit tangannya yang kebetulan ada di atas meja
di dekatku. Kami pun tertawa bersama. Suara sorak sorai dari teman mewarnai
sore itu
Cinta
itu datang karena kebersamaan. Tak perduli pada awalnya kita musuh atau teman.
Karena cinta datang tak bisa ditebak. Nikmatilah hidup kita dengan penuh cinta..
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus