Langsung ke konten utama

Kamu yang Merubahku



Kamu yang Merubahku

Suara ketukkan pintu dari rumah berwarna kuning gading masih terdengar. Seketika tak ada jawaban dari dalam. Hanya ada suara binatang malam yang sedang berpesta riang. Memandang dewi malam yang tersenyum diam.
Aku masih berdiri mematung dan berusaha meyakinkan bahwa orang dalam rumah masih mendengar ketukkan pintu yang kubuat. Sepuluh menit berlalu. Masih diam. Tak ada kepastian. Rasanya ingin ku dobrak rumah itu.
Samar-samar terdengar suara pertengkaran. Sini bicara, lalu dibalas dan seterusnya. Aku sudah sangat paham tentang suara pertengkaran itu. Ya, pertengkaran kedua orang tuaku. Ku ketuk pintu lebih keras. Aku sudah tak sanggup berada diluar di malam yang dingin serta angin.
Sekitar tiga menit berlalu, seorang wanita dengan tampang wajah keibuan membukakan pintu utama untukku. Matanya masih terlihat merah sembab karena habis menangis menanggapi ucapan lawan bicaranya tadi.
“Kamu udah pulang Sat?”, ucapnya lirih mencoba menyembunyikan semua kesedihan yang baru saja Ia rasa.
Aku hanya mengangguk lirih, mencoba mengiyakan tanpa ada sedikit suara dari bibirku. Aku terlalu kagok jika harus berbicara saat suasana seperti ini. Ku langkahkan kaki menuju ruang dalam diiringi langkah Mamahku.
“Dari mana kamu? Jam segini baru pulang? Main kemana aja?”, Tanya seorang berwajah kebapakkan ketus.
Ku atur nafasku secara perlahan. Mamah yang berada dibelakangku mencoba menenangkan dengan cara menepuk pundakku lembut.
“Abis dari SMA Tunas Bangsa Pah, Menuhin undangan. Tadi kan Satya udah izin sama Papah”, ucapku menahan emosi.
“Alah.. bilang aja abis main. Udahlah nggak usah ngeles, papah udah hafal sama tingkah kamu. Tuh liat, akibat didikan kamu Ji”, ucapnya lagi.
“Pah.. cukup ngga usah berantem terus sama Mamah. Tuh liat mamah udah nangis, matanya sembab. Kasian Pah, cukup. Kasihan Gladys dari tadi ngedenger Mamah sama Papah berantem mulu”, ucapku sambil memeluk Gladys yang dari tadi mengintip dari balik tembok melihat pertengkaran ini.
Ku tapakki ubin keramik yang menempel apik di lantai rumah menuju kamar Gladis, adik tersayangku. Ku tepuk pundaknya pelan, berusaha menenangkan.
“Sudah ya, Gladys tidur aja. Ini kan udah malam, besok kalo kesiangan gimana?”, ucapku.
Hanya anggukan kecil dan manis sebagai isyarat jawaban dari Gladys. Ku tarik selimut bergambar princess berwarna pink kesayangannya. Setelah mengucapkan selamat tidur, dan mematikan lampu, ku tinggalkan dia seorang diri.
Keadaan seperti ini sudah sering kujumpai. Orang tua yang setiap hari selalu ribut mempermasalahkan entah apa.
***
Matahari pagi sudah menyumbul di ufuk timur. Suara nyanyian burung sebagai back song pagi hari masih terdengar merdu. Kabut dan embun dingin menyerbu diriku yang masih dalam perjalanan berangkat sekolah.
Deru mesin menyapu dinginnya kota bersamaan dengan jatuhnya tetesan embun ke rerumputan. Jarum merah speedometer menunjuk angka 90 km/jam. Pikiranku kalut, entah terfokus ke arah mana.
Suasana kelas masih sangat sepi. Ini sebuah keajaiban untukku. Biasanya aku sampai disekolah saat hampir semua anak sudah duduk rapi di bangku mereka masing-masing. Terlihat di bangku pojok belakang, seorang cewe duduk dalam diam menatap tajam ke arah bawah.
Ku coba dekati dia dengan perlahan. Takut-takut kalau dia tak merestui kehadiranku. Suasana masih diam. Dia tak menatapku dan akupun tak menatapnya. Kami sama-sama senang dalam diam. Ku taruh tasku tepat dikursi depan mejanya berada. Kurebahkan kepalaku ke arah lipatan tangan yang termodifikasi sehingga berfungsi sebagai bantal.
“Kamu kenapa?”, ucapnya dingin mencoba membuka percakapan.
Aku masih diam. Tak percaya, ku tunggu Ia berujar lagi. Hening. Sepi. Hanya ada suara motor dari arah luar, pertanda beberapa siswa sudah mulai datang ke sekolah. Tak ada sepatah katapun yang terdengar sejauh ruang dengarku.
Tak berapa lama, sebuah sentuhan atau tepatnya pukulan lembut mendarat dibahuku. Ku angkat kepala dari bantal modifikasiku.
“Hah? Emm.. nggak kok. Cuma ada masalah pribadi aja”, ucapku gemetar dikarenakan dinginnya perjalanan dari rumah ke sekolah tadi.
“Maaf sebelumnya, bukan lancang atau sok tahu. Kalo kamu mau cerita aku siap dengerin kok”, ujarnya lebih ramah dari tadi.
Hatiku berdesir lembut. Entah apa yang merasuk. Dapat keberanian dari mana ini cewe berkata seperti itu. Ku yakinkan diriku tentang apa yang diucapkannya barusan. Hatiku terasa berbeda. Dengan berbekal kepercayaan padanya akhirnya ku ceritakan semua yang ku alami akhir-akhir ini.
“Mungkin mereka sedang ada masalah sendiri Sat. Setiap hubungan kan ada permasalahan, nggak mungkin flat-flat aja. Mereka butuh instropeksi satu sama lain. Tenang aja, Allah masih menyayangi kita”, ucapnya lebih ramah, tak sedingin sikapnya awal tadi.
Aku mencoba tersenyum mengiyakan. Ku lihat tatapan matanya yang terfokus padaku.
“Apa kamu ada masalah juga Ghi?”, tanyaku.
Dia menggeleng pelan. Senyum mengembang di bibirnya.
***
Waktu telah berlalu. Percakapanku dengan Ghina di hari yang kelam menurutku, kini semakin dekat. Kami sering bertukar cerita. Entah dari masalah mana saja. Dia berani bercerita tentang kehidupannya, dan akupun begitu.
Hari ini, dia datang ke rumahku. Sebenarnya dia tidak mau, namun karena alasan yang aku buat, akhirnya maulah dia menerima permintaanku.
Suara desingan motor matic yang sedang hits digandrungi para remaja mulai terdengar memasuki area garasi depan rumahku. Gladys, adik tercantikku sudah duduk manis di depan pintu utama.
“Hai Kak Ghina…”, ucapnya riang.
Aku tak tahu harus berbuat apa. Aku takut Ghina salah paham, dan akan pulang. Tak ku sangka suara ‘Hai Gladys, kamu keliatan cantik deh’ terucap dari bibir tebalnya. Seketika perasaan kegetiran yang menyelinap hatiku sirna sudah.
Ku persilahkan Ghina untuk masuk ke ruang tamu rumahku. Digandengnya tangan mungil Gladys. Terlihat Ia seperti sedang memberikan sesuatu ke arah Gladys. Aku tak dapat menangkap obrolan mereka secara lengkap. ‘Ini, Kak Ghina buatkan untuk Gladys loh. Warnanya pink, katanya Kak Satya Gladys suka warna pink. Suka ngga nih?’. Mungkin hanya kata-kata itu yang aku tangkap dari obrolan panjang mereka.
Dari arah dalam rumah, terlihat Mamah dan Papahku berjalan menuju ruang tamu. Mungkin ingin menyambut kedatangan Ghina, yang sudah sering aku ceritakan kepada mereka.
“Oh ini yang namanya Ghina. Makasih ya nak, berkat kamu Satya jadi bisa berubah tabiatnya dan lebih mengerti keadaan kami. Dan satu lagi, dia jadi tambah dewasa”, ucap Mamah dengan senyum mengembang di bibirnya.
Senyum manis dari Ghina kembali terpancar ke arah Mamah dan Papah. Tak banyak kalimat yang dikeluarkan dari bibir Papah, tapi sejauh ini Ia terlihat senang dengan kehadiran Ghina.
Tak lama setelah Mamah dan Papah mengobrol dengan Ghina, aku meminta izin untuk pergi bersama Ghina dan Gladys. Gladys tersenyum senang. Hadiah pemberian Ghina ikut serta menemani perjalanan kami.
“Kita mau kemana Sat?”, Tanya Ghina pelan.
Tak ada sepatah katapun keluar dari mulutku untuk menjawab pertanyaan Ghina. Tak terlalu lama, sampailah kami di arena bermain anak yang terbilang cukup ramai didatangi warga kota yang tak sempat berlibur jauh.
Ghina dan Gladys turun beriringan dari motor yang kami kendarai.
“Kak Ghina, temenin Gladys main itu yuk!”
Senyum mengembang kembali menghiasi bibir Ghina. Senyum yang menghanyutkanku, dan senyum yang menjawab seribu makna. Gladys kami temani bermain sepuas hatinya.
Ku curi pandang ke arah Ghina saat menunggui Gladys bermain. Dia terlihat sangat menikmati suasana ini. Itu sangat terlihat dari gambaran kerutan senyum di pipinya. Ku ambil kamera DSLR ku. Ku arahkan lensa fokusnya ke arah Ghina. Ini memang bukan pertama kali, aku mencuri foto Ghina. Namun tetap saja rasa gugup muncul di hatiku. Sekitar lebih dari 10 foto Ghina telah ku curi.
“Ghina, aku mau ngomong sebentar. Bisa?”, tanyaku membuka percakapan.
Hanya anggukan yang menjadi isyarat jawaban dari Ghina. Meski tatapan matanya masih mengawasi Gladys yang sedang bermain, mungkin Ia takut Gladys jatuh atau terpeleset, keringat dingin mengucur membasahi telapak tanganku. Degup jantung yang tidak karuan menambah nuansa saat-saat seperti ini.
“Ghina, kamu tahu awal pertemuan kita. Bagaimana aku bercerita tentang semua masalahku, bagaimana kamu menjawab semua itu…….”, ucapku terputus.
Ia terlihat sangat menghayati setiap kata yang aku keluarkan dari mulutku. Kini Ia sedikit memalingkan tatapannya dari Gladys ke arahku sejenak.
“Jadi jujur Ghin, sejak saat itu…”, ucapku menggantung.
“Apa?”
“Aku ngerasa nyaman sama kamu. Gimana dengan kamu?”, kata-kataku kali ini benar-benar menyusup ke seluruh tubuhku.
Benarkah aku mengungkapkan semua itu. Mengungkapkan semua yang telah terbelenggu di hatiku. Mengungkapkan semua yang membuat semua tak enak dilakukan. Menunggu bibir Ghina memberi jawaban untukku, rasanya sama saja sedang menunggu sesuatu yang benar-benar kita inginkan.
“Sat… kalau aku boleh jujur. Aku juga nyaman sama kamu, aku juga suka sama kamu. Kalau kamu bisa membaca sikap seseorang harusnya kamu sudah tau itu sejak dulu. Tapi bukannya kamu nggak mau pacaran ya, kamu juga belum bisa lupain mantan kamu itu kan?”, ucapnya menggantung.
Seketika darahku seperti berhenti berdesir. Apa maksud kalimat terakhir Ghina? Kalimat yang membuat semua seperti adegan slow motion.  Kucoba ku anggukkan kepalaku, sebagai isyarat jawaban dari pertanyaan Ghina.
“Nah kamu aja nggak mau pacaran, bukannya aku juga pernah cerita bahwa itu juga keinginanku”, ujarnya tanpa rasa bersalah karena membuatku dag dig dug.
“Terus gimana?”
“Gimana apanya? Nah kamu maunya gimana Sat?”
Aku kembali terdiam. Pertanyaan mematikan datang dari Ghina kembali.
“Ya sudah gini aja, dari pada kamu bingung jawab pertanyaanku. Kamu nggak mau pacaran, begitu juga denganku. Tapi kita ingin membangun suatu hubungan ke arah yang lebih serius. Lebih baik kita saling menjaga perasaan, jaga hati, dan jaga kepercayaan. Insya Allah, kita bisa tetap bersama dan melangkah ke yang lebih serius tanpa hal-hal yang membius. Teman yang akan menjadi pasangan”, ucapnya panjang lebar.
Kali ini aku yang menanggapi jawaban dari Ghina dengan senyuman. Sungguh dewasa sikap cewe ini. Tak salah rasanya aku menyukainya. Ku rentangkan tanganku ke arahnya, ingin ku sambut dirinya dalam pelukan hangat.
“Eitss,, jangan gitu Sat. Ini forum umum loh. Banyak anak kecil lagi”, ucapnya menampik rentangan tanganku.
Aku kembali tersenyum tak jelas. Kini tanpa rasa malu dan harus mencuri pandang, ku arahkan lensa DSLR ku ke wajah Ghina.
"Kamu telah merubah sifatku menjadi lebih baik Ghin..", ucapku lirih. Perkiraanku Ia tak mendengar ucapanku ini. Namun meleset, sangat meleset. Ia mendengar dengan jelas apa yang baru saja aku ucapkan tadi.
"Bukan aku yang merubah kamu. Tapi diri kamu sendiri. Aku hanya perantara dari Allah SWT"
Aku kembali tersenyum bangga di kulum pipi.
Dari arah jauh, terdengar suara Gladys berteriak memanggil namaku dan Ghina, Mungkin Ia melihat adegan yang baru saja dilewati oleh kakaknya.
“Gladys mau es krim? Kak Satya traktir deh?”, tanyaku mengalihkan pembicaraan. Takut-takut Ia bertanya macam-macam.
Sebuah anggukan manis terlihat dari kepala yang terbalut jilbab berwarna pink menyala. Ku beli es krim 3 buah. Tertutuplah momen hari itu dengan foto bersama serta corat-coret muka dengan es krim.
Tak selamanya rasa cinta itu dinyatakan dalam suatu hubungan yang biasa di sebut pacaran. Dengan menjaga hati, perasaan, dan kepercayaan kita juga bisa melangkah ke arah yang lebih serius tanpa mengenal hal-hal yang bisa merusak aqidah agama. Jodoh sudah ditentukan oleh Allah. Perbaikilah diri menjadi lebih baik agar kita mendapatkan jodoh yang baik pula. Allah tahu yang terbaik untuk kita. Setiap hubungan juga ada masalah. Masalah ada untuk dijalani bukan untuk ditakuti. Masalah ada untuk menjadi tolak ukur kita, apakah kita sukses menjalaninya dengan akhir bahagia ataukah akhir yang murka.
Orang tua menginginkan yang terbaik untuk anak. Meski terkadang beliau tak mendukung hal-hal yang kita inginkan, tetapi percayalah semua yang mereka lakukan untuk kebaikan kita di masa depan. Sayangilah orang tua kita selagi kita masih bisa menyayanginya. Dekaplah mereka, mohon ampunlah padanya. Karena ridho Allah adalah ridho orang tua.


Komentar

Posting Komentar